Sketsa dan Peta Wilayah Objek Geografi

Kita telah belajar tentang peta dan skala. Nah, marilah kita gunakan pengetahuan kita itu untuk membuat sketsa dan peta.

1. Membuat Sketsa

Ketika di SD, kamu telah belajar bagaimana menggambar denah rumah dan sekolahmu. Keterampilan membuat sketsa dan peta wilayah erat kaitannya dengan pengalamanmu menggambar denah rumah dan sekolahmu dulu.
Perhatikanlah contoh berikut.

Gambar 4.6 Sketsa letak RS Haji Jakarta Sumber: Brosur RS Haji Jakarta

Gambar 4.6 Sketsa letak RS Haji Jakarta Sumber: Brosur RS Haji Jakarta

Pada suatu saat, kamu ditanya oleh seseorang tentang lokasi suatu tempat yang tidak diketahuinya. Kamu kebetulan mengetahui tempat tersebut. Untuk mempermudah pemahaman orang tersebut, kamu akan membuat sketsa/denah lokasi tempat yang dimaksudkannya. Pada contoh sketsa di atas, dengan melihat sketsa tersebut, orang yang akan mengunjungi Rumah Sakit Haji akan dengan mudah menemukan lokasi tersebut. Amatilah kembali sketsa pada Gambar 4.6. Pada gambar tersebut, tampak jaringan jalan (dari arah Cawang, Cikunir, Pd. Gede, Kramat Jati, dan Pd. Indah), penggunaan lahan (Asrama Haji, RS Haji, Polsek Pinang Ranti, dan TMII), dan orientasi (penunjuk arah angin). Nah, sebuah sketsa juga dapat dibuat selengkap mungkin seperti halnya peta. Artinya, pada sebuah sketsa juga dapat digambarkan berbagai kenampakan dan objek geografi seperti sungai, bukit, jembatan, jaringan transportasi, dll. Tentu saja kenampakan tersebut digambar menggunakan simbol-simbol. Namun demikian, sketsa bukanlah peta karena sketsa belum menggunakan skala.

2. Membuat Peta Wilayah

Setelah mampu membuat sketsa, sekarang kita akan membuat peta wilayah yang menggambarkan objek geografis. Apa itu peta wilayah dan apa itu objek geografis? Wilayah ialah daerah atau lingkungan daerah. Wilayah dapat berupa wilayah dari tingkat desa sampai benua. Peta wilayah ialah peta yang menggambarkan lingkungan tertentu. Nah, sebelum membuat peta, kita harus mengetahui dahulu objek apa yang akan dibuatkan petanya. Obejak geografi ialah hal yang berkaitan dengan geografi yang dijadikan sasaran untuk dibuatkan petanya. Objek geografi antara lain meliputi atmosfer, hidrosfer, litosfer, biosfer. Atmosfer ialah lapisan udara yang menyelubungi bumi sampai ketinggian 300 km. Objek geografi yang berhubungan dengan atmosfer yang dapat dibuatkan petanya antara lain curah hujan, keadaan iklim, dan arah angin. Hidrosfer ialah lapisan air yang mengelilingi bumi. Objek geografi yang berhubungan dengan hidrosfer yang dapat dibuatkan petanya antara lain perairan darat, perairan laut, penyebaran danau, dan daerah aliran sungai. Litosfer ialah lapisan batuan yang menyusun kulit bumi. Objek geografi yang berhubungan dengan litosfer yang dapat dibuatkan petanya antara lain penyebaran gunung api, jenis-jenis tanah, dan daerah dataran tinggi. Biosfer diartikan juga sebagai lingkungan yang berupa segala sesuatu yang hidup (manusia, hewan, tumbuhan). Objek geografi yang berhubungan dengan biosfer yang dapat dibuatkan petanya antara lain penyebaran fauna, hutan hujan tropis, kepadatan penduduk, dan pelabuhan laut. Untuk membuat peta, kita harus tahu unsur-unsur peta. Unsur-unsur peta tersebut ialah judul peta, skala peta, petunjuk arah, garis astronomis, peta inset, lembaga pembuat, tahun pembuatan, dan legenda (kolom keterangan tentang simbol-simbol yang terdapat dalam peta).

Untuk membuat peta, langkah pertama yang harus kita tentukan ialah peta apa yang akan dibuat. Ingat bahwa ada berbagai jenis peta. Salah satu di antaranya ialah peta tematik. Peta tematik ialah peta yang menggambarkan tema-tema tertentu yang ada di permukaan bumi. Contoh peta tematik ialah peta curah hujan, peta kepadatan penduduk di Kabupaten X, peta hasil bumi di Provinsi Y.

Bagaimana proses dan cara membuat peta tematik?
Proses pembuatan peta tematik secara umum meliputi tiga tahap, yaitu tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap penyajian data.

a. Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
Dalam tahap menyiapkan data, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

1) Menyiapkan Informasi Dasar

Data merupakan informasi dasar peta tematik. Dalam membuat peta tematik yang menggambarkan objek geografi, informasi dasarnya diambil dari peta rupa bumi atau peta umum. Penggunaan peta umum sebagai dasar karena peta umum secara matematis akurat, secara geometrik betul. Informasi dasar yang diperlukan dalam pembuatan peta tematik antara lain kenampakan jalan, sungai, batas administrasi, dan penggunaan lahan. Penentuan informasi dasar mana yang akan digunakan dalam sebuah peta tematik bergantung pada tema peta. Peta tematik dengan tema seperti tanah, kemiringan lereng, hidrologi, atau geologi lebih memerlukan informasi dasar tentang kenampakan alam. Peta tematik dengan tema industri, pendidikan, kependudukan, atau keadaan sosial ekonomi lebih memerlukan informasi dasar tentang batas administrasi, jalan, dan sebagainya.

Dari mana kamu memperoleh informasi dasar tersebut? Informasi dasar dapat kamu peroleh dengan dua cara: langsung dan tidak langsung. Cara langsung ialah dengan mengambil data di lapangan, seperti pengamatan, pengukuran, ataupun wawancara. Data yang diperoleh dengan cara ini disebut data primer. Cara tidak langsung ialah dengan mengambil data yang telah tersedia dari berbagai sumber, seperti kantor desa atau kelurahan, Biro Pusat Statistik (BPS), Pusat Survei Pemetaan (Pussruta), Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), dan lain-lain. Data yang diperoleh dengan cara ini disebut data sekunder.

2) Menyiapkan Komponen Peta Tematik

Sama seperti peta umum, peta tematik pun harus memenuhi komponen-komponen tertentu. Untuk itu, komponen-komponen tersebut sudah harus dipersiapkan sebelum pembuatan peta tematik. Komponen-komponen tersebut antara lain judul peta, skala peta, koordinat peta, legenda peta, dan simbol yang akan digunakan. Jika semua komponen telah tersedia, hal ini akan sangat memudahkan pembuatan peta wilayah yang menggambarkan suatu objek geografi.

3) Menyiapkan Alat

Dalam pembuatan peta, alat-alat yang digunakan antara lain kertas, plastik transparan atau kertas kalkir untuk menciplak peta dasar, penggaris, pensil, rapido, pensil/spidol berbagai warna sesuai dengan tema atau banyaknya simbol yang akan digunakan.

b. Pembuatan dan Penyajian
Bagaimana sebuah peta tematik dibuat? Inilah tahap akhir yang menentukan. Adapun tahap pembuatan peta tematik contohnya seperti berikut.
(1) Ambil peta dasar dan tempelkan di atas meja datar.
(2) Ambil plastik transparan atau kertas kalkir dengan ukuran lebih besar dari peta dasar, letakkan di atas peta dasar.
(3) Buat bingkai peta, kemudian jiplak peta dasar lengkap dengan batas-batas fisik wilayah seperti daerah aliran sungai (DAS) dengan menggunakan simbol garis seperti —– dengan spidol berwarna biru; jalan raya, jalan setapak, dan jalan lainnya dengan spidol berwarna merah. Jika ada gambar jalan kereta api, gunakan garis ==== dengan spidol berwarna hitam
(4) Gambarlah batas setiap penggunaan lahan dengan simbol garis tidak terputus.
(5) Gambarlah simbol wilayah pada tiap penggunaan lahan dengan warna yang sesuai kenyataan. Jika tidak mungkin, gunakan simbol huruf, misalnya hutan dengan simbol H, pemukiman dengan simbol P.
(6) Gambarlah simbol-simbol titik dari berbagai objek.
(7) Penulisan huruf pada peta dapat menggunakan rugos atau lettering set toponim. Nama tempat di daratan menggunakan huruf tegak berwarna hitam. Nama yang mewakili perairan seperti sungai, danau menggunakan huruf miring berwarna biru.
(8) Tuliskan komponen peta yang lain, seperti judul peta, koordinat geografi, skala peta, orientasi/arah mata angin, legenda, sumber peta dan tahun terbit, serta pembuat peta terletak di luar garis pinggir peta.

Berikut adalah contoh yang paling sederhana tentang pembuatan sebuah peta tematik secara manual. Misalnya, kita akan membuat peta tematik tentang kepadatan penduduk di Pulau Antua. Di pulau tersebut terdapat tujuh desa. Adapun data persebaran penduduk di pulau tersebut adalah seperti berikut.

Tabel 4.4 Persebaran Penduduk di Pulau Antua

Tabel 4.4 Persebaran Penduduk di Pulau Antua

Perhatikanlah contoh penyajian peta tematik berikut ini. Peta ini dibuat temanmu berdasarkan data pada tabel di atas. Perhatikan bahwa penyajian data dapat menggunakan arsiran dan juga titik.

Gambar 4.7 Peta Persebaran Penduduk di Pulau Antua Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 4.7 Peta Persebaran Penduduk di Pulau Antua Sumber: Dokumen Penulis

Bandingkan gambar tangan temanmu di atas dengan peta tematik berikut ini.

Gambar 4.8 Peta Jalur Transportasi Laut dan Udara Indonesia Sumber: : Atlas Pelajar, Indonesia dan Dunia (dengan perubahan skala)

Gambar 4.8 Peta Jalur Transportasi Laut dan Udara Indonesia Sumber: : Atlas Pelajar, Indonesia dan Dunia (dengan perubahan skala)

C. Kondisi Geografis dan Penduduk Indonesia

Untuk dapat memahami usaha manusia mengenali perkembangan lingkungannya, kita perlu mengetahui kondisi geografis dan kondisi penduduk di wilayah terkait. Kondisi geografis menyangkut kenampakan alam dan kondisi penduduk dilihat dari keadaan sosialnya. Ingatlah kembali apa saja yang termasuk kenampakan alam dan apa saja yang termasuk keadaan sosial.

1. Kondisi Geografis

Kita telah belajar tentang peta dan globe. Perhatikanlah peta wilayah Indonesia yang terdapat pada peta dunia dan globe. Informasi apa yang dapat kamu peroleh dari peta tersebut? Dari peta dan globe, kita dapat memperoleh informasi tentang letak, luas dan bentuk, serta batas-batas suatu wilayah.

a. Letak
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki letak yang cukup strategis. Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari letak Indonesia dari sudut letak astronomis, letak geografis, dan letak geologis.

1) Letak Astronomis

Kita telah belajar bahwa pada peta dan globe terdapat garis-garis astronomis, yaitu garis lintang dan garis bujur. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak antara 6° 08′ LU – 11° 15′ LS dan antara 94° 45′ BT – 141° 05′ BT. Kondisi geografis Indonesia berdasar garis lintangnya antara lain seperti berikut.
(1) Wilayah Indonesia sebagian besar terletak di belahan bumi selatan.
(2) Wilayah Indonesia dilalui oleh garis Khatulistiwa.
(3) Indonesia beriklim tropis

Kondisi geografis Indonesia berdasar garis bujurnya antara lain seperti berikut.
(1) Wilayah Indonesia terletak di belahan bumi timur.
(2) Panjang garis bujur Indonesia ialah 460. Berdasarkan penetapan internasional bahwa setiap 150 terjadi perbedaan waktu 1 jam. Dengan demikian, di Indonesia terdapat 3 daerah waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah
(WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT).

2) Letak Geografis

Indonesia memiliki letak geografis yang strategis. Dikatakan strategis karena:
(1) Indonesia terletak antara dua benua, Asia dan Australia. Letak ini menyebabkan di Indonesia terjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Di samping itu, letak ini menyebabkan Indonesia kaya akan koleksi flora dan fauna. Indonesia memiliki koleksi flora dan fauna yang bersifat asiatis, peralihan, dan australis.
(2) Indonesia terletak di antara dua samudera, yaitu Hindia dan Pasifik.
(3) Indonesia terletak di jalur lalu lintas dunia, baik jalur pelayaran maupun penerbangan. Jalur pelayaran merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia.

3) Letak Geologis

Letak geologis adalah letak suatu daerah berdasarkan struktur dan komposisi batuan atau bentuk muka atau bagian dalam bumi yang ada di daerah itu. Berdasarkan letak geologisnya, keadaan Indonesia antara lain seperti berikut.
(1) Indonesia terletak pada pertemuan deretan Pegunungan Muda Sirkum Pasifik dan Pegunungan Mediterania. Akibatnya, di Indonesia banyak dijumpai gunung api dan pusat-pusat gempa. Akibat kegiatan gempa dan vulkanisme, di Indonesia banyak ditemukan sumber daya bahan galian, seperti minyak bumi, gas alam, batu bara dan timah. Sumber daya bahan galian (mineral) merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai komoditas perdagangan dan industri yang juga komoditas ekspor.
(2) Indonesia terbagi ke dalam tiga daerah, yaitu daerah Dangkalan Sunda (meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di seputarnya), daerah Dangkalan Laut Dalam (meliputi Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya), dan daerah Dangkalan Sahul (meliputi Kep. Aru, Pulau Irian, dan pulau-pulau di sekitarnya). Dangkalan Laut Dalam dan Dangkalan Sahul dipisahkan oleh garis Wallacea di Selat Makassar dan Selat Lombok.
(3) Indonesia memiliki berbagai jenis tanah yang tersebar mulai dari daratan rendah sampai dengan daerah pegunungan. Jenis-jenis tanah tersebut antara lain tanah aluvial (hasil endapan erosi di sekitar sungai), tanah vulkanik (berasal dari pelapukan abu vulkanik), tanah gambut (tanah di daerah yang selalu digenangi air), tanah humus (hasil pembusukan bahan-bahan organik) dan lain-lain.

4) Letak Geomorfologis

Letak suatu negara berdasarkan bentuk permukaan bumi merupakan letak geomorfologis negara tersebut. Indonesia memiliki bentuk muka bumi yang sangat lengkap, mulai dataran rendah sampai dataran tinggi dan pegunungan. Berdasarkan letak geomorfologisnya, keadaan Indonesia antara lain seperti berikut.
(1) Karena pengaruh perbedaan ketinggian dan letak lintang, terdapat perbedaan suhu udara yang bervariasi.
(2) Keragaman bentuk muka bumi menyebabkan timbulnya berbagai kemungkinan mata pencaharian, mulai dari nelayan di tepi pantai, pekerja di pabrik-pabrik atau perkantoran di dataran rendah, sampai pada petani di dataran tinggi.

5) Letak Ekonomik

Letak ekonomik adalah letak suatu negara dilihat dari jalur dan kehidupan ekonomi negara itu terhadap negara lain. Letak ekonomik Indonesia sangat strategis karena Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Australia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang merupakan pusat lalu lintas perdagangan dunia. Kapal dagang atau para pengusaha yang membawa keuntungan bagi Indonesia. Kegiatan ekonomi antarnegara sangat berpengaruh pada kehidupan sosial budaya kita. Kontak antarnegara menyebabkan munculnya aneka ragam budaya. Dengan keaneka-ragaman budaya ini, bangsa Indonesia mudah bergaul dengan bangsa lain, terutama bangsa-bangsa di kawasan Asia. Hal ini disebabkan adanya kesamaan unsur-unsur budaya kita dengan budaya bangsa-bangsa di Asia dan bangsa-bangsa lain di berbagai benua.

b. Bentuk, Luas, dan Batas Negara
Sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau kurang lebih 17.500 pulau, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dapatkah kamu bayangkan berapa panjangnya garis pantai yang dimiliki Indonesia? 81.497 km atau setara dua kali keliling bumi di Khatulistiwa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki luas wilayah 5.193.252 km2. Luas pulau-pulaunya 1.904.569 km2 dan luas lautannya 3.288.683 km2. jika dibandingkan, perbandingan luas daratan dan lautan ialah 2 : 3.

Gambar 4.11 Indonesia, Untaian Zamrut di Khatulistiwa

Gambar 4.11 Indonesia, Untaian Zamrut di Khatulistiwa

Negara yang luas ini di sebelah utara berbatasan dengan Malaysia, Singapura, Filipina, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Cina Selatan, dan Samudera Pasifik. Di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Di sebelah timur berbatasan dengan Papua Nugini. Di sebelah selatan, Indonesia berbatasan dengan Timor Leste, Australia, Samudera Hindia, Laut Timor, dan Laut Arafura.

2. Kondisi Penduduk

Wilayah Indonesia terbentang dari Sabang di barat sampai Merauke di timur, dari Pulau We di utara sampai Pulau Roti di selatan. Sebagai sebuah negara berdaulat, Indonesia memiliki penduduk, salah satu syarat berdirinya sebuah negara. Dengan jumlah penduduk 241.973.880 jiwa pada tahun 2005, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar kelima di dunia. Penduduk Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama, dan budaya. Bagaimana keadaan penduduk Indonesia dari segi jumlah dan persebarannya? Persebaran penduduk atau disebut juga distribusi penduduk. Secara geografis, penduduk Indonesia tersebar di beberapa pulau besar dan pulau-pulau atau kepulauan. Secara administratif (dan politis), penduduk Indonesia tersebar di 33 propinsi. Perhatikanlah tabel berikut.

Tabel 4.1 Kepadatan Penduduk per km2 menurut Provinsi

Tabel 4.1 Kepadatan Penduduk per km2 menurut Provinsi

Jika kita mau memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungannya, kita harus belajar memahami kondisi penduduk di lingkungan tersebut. Kondisi penduduk dapat ditinjau dari segi ekonomi dan kebudayaannya.

a. Kondisi Ekonomi
Dari segi ekonomi, kondisi penduduk berkaitan erat dengan kondisi geografis tempat penduduk itu berada. Dalam usaha memenuhi kebutuhannya, penduduk berusaha beradaptasi dengan lingkungannya dan memanfaatkan lingkungannya. Contoh penduduk beradaptasi dengan lingkungannya ialah jika dia tinggal di desa, kegiatan ekonomi yang dapat dilakukannya berkaitan dengan kegiatan agraris, seperti
bertani dan berladang atau beternak. Jika dia tinggal di kota, kegiatan ekonomi yang dapat dilakukannya ialah berdagang atau bekerja di kantor atau pabrik. Contoh penduduk memanfaatkan lingkungannya ialah jika dia berada di daerah dataran rendah, kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan antara lain kegiatan pertanian yang menghasilkan tanaman pangan dan tanaman komoditas. Penduduk yang berada di daerah pegunungan akan berusaha di bidang perkebunan dan kehutanan, pertanian hortikultura, dan industri pariwisata alam pegunungan. Penduduk yang berada di daerah pantai akan memanfaatkan lingkungannya untuk usaha perikanan dan wisata pantai. Penduduk yang tinggal di daerah pedalaman akan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya antara lain dengan berburu dan meramu sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya.

b. Kondisi Kebudayaan

Kebudayaan merupakan hasil olah pikir manusia, baik yang bersifat abstrak maupun konkret. Dengan demikian, ruang lingkup kebudayaan sangat luas. Hasil kebudayaan tampak dalam bidang pemerintahan, hukum, adat-istiadat, agama, kesenian, bahasa, gagasan, ide, bentuk rumah, dan lain-lain. Dengan jumlah suku kurang lebih 370 suku bangsa, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya budaya. Setiap suku mempunyai hasil kebudayaan tersendiri.

Apa kaitannya antara kebudayaan dan kondisi geografis?
Ingatlah bahwa manusia selalu berusaha beradaptasi atau memanfaatkan lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya. Penduduk yang menempati suatu wilayah akan terpengaruh dengan keadaan geografis wilayah tersebut. Contohnya, rumah adat sebagai hasil budaya. Di daerah yang memiliki hutan lebat dan banyak binatang buas, atau daerah berawa-rawa, bentuk rumahnya ialah rumah panggung. Bandingkanlah cara berpakaian penduduk yang tinggal di pegunungan dan penduduk yang tinggal di tepi pantai. Penduduk daerah mana yang pakaiannya terbuat dari bahan yang relatif lebih tebal? Demikian juga dengan mata pencaharian penduduk. Misalnya, mereka yang tinggal di tepi pantai kebanyakan akan bekerja sebagai nelayan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s